Indonesia jadi raja di dunia. Tercatat, pengguna TikTok terbanyak di dunia, melebihi Amerika Serikat hingga Rusia. Berdasarkan data yang diungkap oleh Statista pada Agustus 2024, Indonesia memiliki 157,6 juta pengguna TikTok. “Pada Juli 2024, Indonesia merupakan negara dengan jumlah pengguna TikTok terbesar di dunia, dengan hampir 157,6 juta pengguna yang menggunakan platform video sosial yang populer ini,” kata dalam laman resminya, dikutip Senin (7/10) (CNN Indonesia)
Berikut adalah penjelasan lebih detail mengenai dampak positif dan negatif pertumbuhan TikTok terhadap beberapa generasi di Indonesia, yaitu Generasi Z, Milenial, dan Generasi X.
Dampak Positif TikTok
1. Generasi Z (14-25 tahun)
- Kreativitas dan Ekspresi Diri
TikTok memberikan ruang luas bagi anak muda untuk menyalurkan kreativitas melalui video pendek. Tren seperti tarian, tantangan (challenge), seni, atau komedi sering kali dibuat dan diikuti oleh pengguna.
Contoh: Banyak Gen Z yang menciptakan tren viral seperti tarian atau meme yang menjadi budaya pop baru. - Peluang Karier Baru
TikTok membuka peluang karier sebagai kreator konten, influencer, hingga brand ambassador. Mereka dapat menghasilkan pendapatan melalui promosi produk, iklan, atau kemitraan dengan merek besar.
Contoh: Kreator seperti Jharna Bhagwani berhasil menggunakan TikTok untuk mempromosikan seni makeup kreatifnya. - Edukasi Modern
Banyak konten edukasi yang dikemas secara singkat, seperti tips belajar, keterampilan bahasa, tutorial teknologi, hingga wawasan sejarah.
Contoh: Video belajar 60 detik tentang matematika atau ilmu pengetahuan yang menarik perhatian anak muda.
2. Generasi Milenial (26-40 tahun)
- Peluang Bisnis
Milenial yang memulai usaha kecil atau menengah menggunakan TikTok untuk memasarkan produk mereka secara efektif. Algoritma TikTok memungkinkan konten promosi menjangkau audiens lebih luas dengan biaya rendah.
Contoh: TikTok Shop dan video viral membantu bisnis lokal mendapatkan lebih banyak pelanggan. - Koneksi Sosial
TikTok menjadi sarana membangun komunitas berbasis minat yang relevan, seperti kelompok parenting, penggemar hobi tertentu, atau profesional tertentu.
Contoh: Komunitas “ParentTok” menyebarkan tips parenting modern yang relevan untuk milenial. - Edukasi Finansial dan Pengembangan Diri
Kreator TikTok sering berbagi tips manajemen keuangan, cara berinvestasi, dan pengembangan karier, yang sangat relevan untuk generasi ini.
Contoh: Akun yang mengajarkan investasi saham atau cara mengelola keuangan dengan video singkat.
3. Generasi X (41-55 tahun)
- Akses Informasi Cepat
TikTok menyajikan berita dan tips kehidupan sehari-hari dalam format singkat, membantu Generasi X tetap mendapatkan informasi terkini tanpa harus membaca berita panjang.
Contoh: Informasi tentang kesehatan, memasak, atau berita lokal sering diunggah dengan cara yang mudah diikuti. - Adaptasi Teknologi
TikTok mendorong Generasi X untuk lebih akrab dengan teknologi. Banyak yang mulai menggunakan TikTok untuk berinteraksi dengan keluarga atau menonton konten edukasi.
Contoh: Orang tua yang bergabung di TikTok untuk mengikuti tren anak-anak mereka. - Koneksi dengan Anak Muda
Membantu Generasi X memahami dunia digital yang digeluti oleh anak-anak mereka sehingga tercipta hubungan lebih baik.
Contoh: Orang tua menggunakan TikTok untuk berkolaborasi dengan anak dalam membuat konten.
Dampak Negatif TikTok
1. Generasi Z (14-25 tahun)
- Kecanduan Digital
Algoritma TikTok dirancang untuk membuat pengguna terus menonton video tanpa henti, yang dapat mengganggu produktivitas dan pola tidur.
Data: Studi menunjukkan Gen Z menghabiskan rata-rata 3-4 jam per hari di media sosial, termasuk TikTok. - Paparan Konten Negatif
TikTok memiliki konten yang tidak selalu sesuai untuk usia, seperti kekerasan, vulgaritas, atau hoaks.
Contoh: Tantangan berbahaya (dangerous challenges) yang pernah viral seperti Blackout Challenge. - Standar Sosial Tidak Realistis
TikTok sering mempromosikan gaya hidup “sempurna” yang sulit dicapai, seperti tren kecantikan atau kemewahan, sehingga memengaruhi kesehatan mental.
Contoh: Tren kecantikan yang menekan remaja untuk menggunakan makeup mahal atau prosedur kosmetik.
2. Generasi Milenial (26-40 tahun)
- Tekanan Sosial dan Konsumsi Berlebihan
Iklan dan tren konsumsi di TikTok sering kali mendorong FOMO (Fear of Missing Out), menyebabkan pengeluaran yang tidak perlu.
Contoh: Pembelian barang yang viral meskipun kurang fungsional. - Distraksi Kerja
Scroll tanpa henti di TikTok dapat mengurangi produktivitas kerja jika tidak dikontrol dengan baik.
Data: 68% milenial merasa media sosial sering mengganggu fokus mereka selama bekerja. - Informasi Tidak Valid
TikTok menjadi sumber penyebaran hoaks karena kontennya cepat viral tanpa proses verifikasi.
Contoh: Hoaks kesehatan yang menyebar tanpa dasar ilmiah.
3. Generasi X (41-55 tahun)
- Kesulitan Beradaptasi dengan Teknologi
Beberapa Generasi X merasa kesulitan memahami bagaimana TikTok bekerja, sehingga tidak dapat sepenuhnya menikmati platform ini.
Contoh: Mereka mungkin bingung dengan tren viral atau cara membuat konten. - Paparan Hoaks
Generasi ini rentan terhadap berita palsu yang viral di TikTok karena kurangnya literasi digital.
Contoh: Informasi tentang pengobatan alternatif tanpa bukti ilmiah. - Privasi dan Keamanan Data
Kekhawatiran terhadap bagaimana data pribadi pengguna dikelola oleh TikTok dapat menjadi masalah bagi generasi yang lebih tua.
Contoh: Banyak yang enggan menggunakan TikTok karena ketidakjelasan kebijakan privasi.
Kesimpulan
TikTok memiliki dampak besar di Indonesia dengan membawa perubahan positif seperti peluang karier, pemasaran bisnis, hingga edukasi. Namun, platform ini juga memiliki risiko seperti kecanduan, hoaks, dan tekanan sosial. Untuk memaksimalkan manfaatnya, diperlukan literasi digital yang baik di semua generasi dan pengawasan yang bijak, terutama untuk Gen Z.




